Menata-mata Kick My Web!
Menata-mata. Diberdayakan oleh Blogger.

About me

Foto Saya
ollay
hallo, mari bangun, dan menata mata..
Lihat profil lengkapku

Blog

Senin, 20 September 2010

mari melacur!

saya sedang membaca buku berjudul "Caramelo" karangan Sandra Cisneros ketika menemukan didalamnya beberapa selipan statement menarik. jika dibaca kadang terasa sindiran halus, fakta ironis dan kelakar pribadi menjadi satu. kurang lebih begini isinya

"- Ayo, ucapkan halo. Jangan mempermalukanku, bisik ayah. -Bersikaplah sopan dan ucapkan salam kepada semua tamu.
Ruang tamu ini dipenuhi oleh orang-orang yang sedang minum wiski bercampur soda dan es sebelum makan malam. Aku tidak suka masuk ke ruang tamu, namun Ayah memaksaku. Para lelaki berada di bawah naungan tenda dari asap rokok, minuman mereka, nafas mereka bau ketika mereka berbicara ke arah wajahmu. Bagaimana caranya untuk mengatakan kepada Ayah bahwa mereka membuatku takut? Mereka selalu berbicara terlalu keras, seakan semua yang mereka katakan lucu, terutama jika mereka membicarakan tentangmu.
Teman Ayah, Senor Coochi, sedang bermain gitar. Suara Senor Coochi bergetar seperti menangis, seperti air yang terjatuh, jernih dan dingin. Kuku Senor Coochi panjang seperti kuku gadis, dan matanya berwarna amat-amat hijau sehingga serasa melompat keluar dan mengagetkanmu ketika berada dekat dan kemudian matanya terbuka ketika ia sedang bernyanyi. Lucu rasanya karena ada seseorang yang bernyanyi untukmu seperti ada di film. Ketika ia mulai bernyanyi untukku, aku tidak dapat menahan diri dan mulai tertawa. Kemudian musik gitar itu terhenti dengan tiba-tiba.
- Dan kau?
Ketika Senor Coochi berbicara, seluruh ruangan menjadi sunyi seakan semua yang dikatakannya adalah mutiara dan permata.
- Dan kau, apakah engkau?
- Aku seorang gadis kecil.
Seisi ruangan tertawa seakan hanya ada satu orang yang tertawa.
- Ah, seorang gadis kecil, ya? Beruntung sekali. Karena aku sedang mencari seorang gadis kecil. Aku membutuhkan seorang gadis kecil. Maukah kau pulang bersamaku dan menjadi gadis kecilku?
- Tidaaaaaaaakk!
Sekali lagi terdengar tawa keras membahana dan aku tidak mengerti apa yang mereka tertawakan.
- Tapi aku harus mendapatkan seorang gadis kecil untukku. Bagaimana jika aku memberitahukan kepadamu bahwa aku memiliki sebuah taman dengan ayunan dan seekor anjing yang amat lucu. Dan kau tidak harus melakukan apa-apa kecuali bermain seharian. Bagaimana jawabanmu? Apakah kau akan ikut denganku dan menjadi gadis-ku?
- Tidak, tidak akan pernah!
- Tapi bagaimana jika aku memberikanmu sebuah ruangan yang dipenuhi boneka?
- Tidak!
- Dan mainan-mainan yang bagus...
- Tidak!
- Dan monyet-monyet yang bisa bersalto...
- Oh, tidak!
- Dan! Bagaimana dengan ini? ..Sebuah sepeda biru. Dan gitar kecil untukmu. Dan sekotak cokelat.
- Aku sudah memberitahukan kepadamu. Tidak dan tidak dan tidak!
- Tapi bagaimana jika aku memberikanmu sebuah kamar untukmu sendiri. Aku akan membelikan sebuah tempat tidur yang sesuai untuk seorang putri. Dengan kelambu dengan tirai berenda putih-putih seperti kerudung yang dikenakan pada Pembaptisan. Apakah kau bersedia ikut denganku?
- Yah... Baiklah!
Ruangan itu menggemakan suara tawa yang menakutkanku.
- Wanita! Begitulah mereka. Kau hanya harus menemukan harga mereka, kata Coochi sambil memetik gitarnya.
- Seperti kata pepatah, tambah Bibi Kulit Putih sambil mengedipkan mata, - anak-anak dan orang mabuk selalu mengatakan yang sejujurnya. Bukankah begitu, Juchi?
Namun Senor Coochi hanya tertawa dengan kepala tengadah. Kemudian mulai bernyanyi "La Peternena" tanpa melihat ke arahku lagi, seakan aku tidak berada disini.



ya, itulah konsep "hubungan" masa kini.. beberapa dekade lalu Marah Roesli mem-brainwash kita dengan istilah "pernikahan Siti Nurbaya"-nya yang merupakan proyeksi dari pernikahan atau relationship pada masa itu. dan kita -sebagai generasi masa kini- ramai-ramai menolak keras konsep Siti Nurbaya jika diterapkan pada generasi sekarang. tetapi jika menilik potongan dialog yang terdapat di novel Caramelo diatas -yang merupakan penggambaran hubungan masa kini-, sebenarnya hampir tak ada perbedaan signifikan, sekedar variabelnya saja yang berubah. jika pada jaman buyut atau kakek kita dulu, pressure-nya muncul dari luar, berupa tekanan dan tuntutan dari orang tua, sekarang malah muncul internal pressure. tuntutan dari dalam yang memaksa kebutuhan batin di-nomorduakan oleh kebutuhan lahir. ketentraman ditukar kenyamanan, ketenangan batin ditutupi kepuasan materi.

konsep pernikahan masa kini yang tidak menuntut cinta sebagai modal utama mulai mengaburkan substansi mutualisme yang sepadan. tak ada lagi hubungan mutualisme batin seperti Romeo dan Juliet, Simone dan Satre, atau Pak Habibie dan Bu Ainun.

saya jadi ingat tulisan Ayu Utama di salah satu novelnya berjudul Saman, kuranglebihnya seperti ini:

"seharusnya kekasih muncul seperti sebuah lukisan yang tiba-tiba membuat kita jatuh hati, tak perlu parameter, tak perlu alasan jelas. tetapi sekarang kriteria kekasih menjadi seperti memilih perabot meja makan, kita harus mempertimbangkan cost dan benefit, dan berbagai alasan lain yang logis."

ya, keadaan sekarang membuat aspek magis dan tak logis dari bercinta menguap. bukannya seharusnya esensi dari sebuah relationship adalah kenyamanan batin yang tak bisa diukur dengan parameter logis? entah saya yang bodoh atau terlalu platonis, tapi menurut saya kebahagian adalah hal yang berkaitan dengan emosi, tak bisa diukur dengan materi serta jarang yang berbentuk logis.

memang, semua kembali ke sebuah causa hampir prima bernama kebahagian. sayangnya, kebahagian masa kini semakin semu, mungkin karena hal bernama "norma".
ya, NORMA!
kita terlalu banyak mempertimbangkan sisi norma dalam mengejar kebahagian kita sendiri, sehingga secara tidak langsung definisi yang kita cari menjadi kabur. terlalu banyak pendiktean parameter kebahagian seseorang. aspek eksternal yang sangat mempengaruhi ini secara tidak langsung membuat kita menjual kebahagian pribadi demi mendapatkan kesempurnaan dalam persepsi umum! pendiktean kebahagiaan inilah yang membuat pergeseran makna mencintai-dicintai pada jaman sekarang..


terlalu banyak melantur malah membuat saya jadi teringat lagi salah satu statement Ayu Utami di novelnya yang mengatakan bahwa "pernikahan adalah pelacuran yang hipokrit".
atau mungkin jika boleh saya perjelas sedikit menjadi...
"kebanyakan pernikahan ataupun relationship masa kini adalah pelacuran yang hipokrit"..
aren't you?

0 komentar:

Posting Komentar


Menata-mata © 2011