percayakah anda dengan "kebetulan"? atau mungkin.. "firasat"?
hahaha anda kaum realis pasti menertawakan pertanyaan bodoh saya itu.
tapi, entah kenapa barusan saya mendapat sebuah firasat dari kebetulan yang nampaknya patut dipertanyakan. saking tanda tanya-nya, sampai kami tidak percaya dan menertawakan kenyataan yang sepertinya surealis ini.
berawal dari basa-basi, kemudian berbagi, lalu terkuaklah kebetulan itu.
singkat cerita, kami mempunyai konsep sebuah usaha yang sebelas-duabelas, atau bahkan sebelas koma sembilan-dua belas. bisa dibilang, dari A sampai Z tingkat kesamaran dari perbedaan hampir mencapai nol, dan tingkat kesamaan dari perbandingan hampir mencapai satu.
terkejut? sangat! mendadak tubuh saya memanas, kontras dengan cuaca diluar yang menggeliat, menunjukkan sapuan awan yang mengemulsi dan tiupan angin yang memaksa saya mengenakan jaket ungu saya. ungu adalah janda, dan saya menjadi janda yang menggebu-gebu mendapati perjaka ting-ting yang mulus!
singkat cerita, dia menawari saya untuk merger usaha. menjalankannya terlebih dahulu sambil menanti dia datang dari negeri seberang. tanpa ba-bi-bu, saya "iya" kan penawaran menarik tersebut. apalagi dia sudah mempunyai sebuah tempat yang bisa dibilang sangat strategis untuk usaha kami (ya, kami! terlalu pagi? hahaha biarlah!), bahkan saya yang semenjak ari-ari sudah dikota ini pun sudah berbulan-bulan mencari tempat yang tak kunjung menyahut!
apakah bodoh jika terlalu cepat mengambil keputusan, apalagi kami baru berbincang lagi selama lima belas menit setelah berbulan-bulan tak berjumpa? bahkan saya belum pernah benar-benar berjumpa dengannya, hanya berjumpa lintas-maya. saya disini, dia disana.
mungkin inilah yang dinamakan firasat. saya merasa chemistry kami langsung berpagutan, seolah jarak hanya sejengkal. mendadak, otak saya langsung memvisualisasikan dan memvisionerkan.
semangat saya kembali berapi-api, kontras dengan cuaca yang semakin menjadi-jadi. inilah yang melulu disebut teman saya "firasat"..
kadang berasa absurd, tapi entahlah, kebetulan yang sangat kompleks tadi pun terasa absurd. seperti kata-kata bijak, biarkan waktu yang menjawabnya.
platonis, tapi saya percaya.
yang perlu saya lakukan tinggal berdoa, berwacana dan mencoba merealisasikannya. perlahan, dahan demi dahan. selanjutnya, biarkan firasat menuntun, lagi..
About me
Label
- Menyudut Pandang (19)
- Manisnya Melankolis (13)
- Berbisik tentang Musik (10)
- Motion Pictures (6)
- Sisi Lain (6)

Twitter Just tweets!
Blogger Follow This Blog!
0 komentar:
Posting Komentar