Beberapa hari yang lalu saya sempat melakukan bincang dini hari dengan seorang teman hingga bulan nampak mulai tertelan. Di sela teh panas yang mendingin ,gorengan yang mencair, dan batang nikotin yang menumpuk, perbincangan lebih banyak berputar di tema sekitar musik, diselingi beberapa argumen dan pengalaman pribadi tentang kehidupan, idealisme, dan -tentu saja- problematika tak bertepi, cinta. oke, jangan tertawa, semua orang butuh didengar, dan semua orang pernah melankolis. Untungnya, kami tau kalibrasi normalnya.
Saya berkata, lebih nikmat jika menikmati melankolisme sendiri dengan device andalan pribadi dan playlist sesuka hati. Dia tertawa membenarkan. Lalu pembicaraan berlari ke seputar soundtrack. Ya, soundtrack kehidupan dan bagaimana hal ini bisa muncul mendadak tanpa kita sadari. Kadang ketika kita sedang mempunyai momen -apapun itu- yang berpotensi untuk masuk ke relung terdalam, sebuah atau beberapa buah lagu menjadi latar belakang pemanisnya. Entah itu karena kebetulan lagu tersebut berada di tempat dan waktu yang tepat, atau karena korelasi liriknya yang sesuai dengan penggambaran keadaan. Kebanyakan lebih ke arah yang kedua.
Ya, saya juga memiliki soundtrack-soundtrack pribadi, yang juga melambangkan semangat, keputusasaan, keberhasilan, bahkan melankolisme. Masing-masing memiliki korelasi dengan kondisinya. Tapi untuk urusan melankolisme, saya memiliki jagoan yang selalu menjadi partner merenung di kala malam. Here they comes..
Tulisan kali ini boleh dianggap sebagai curahan hati, review, kesok-tauan, kombinasi semuanya, atau bahkan sekedar junk. Terserah anda yang menyimpulkan. Seperti saya katakan tadi, saya memiliki jagoan yang saya plot sebagai partner melankolis. Sebenarnya ada beberapa, tapi kali ini saya hanya memilih salah satunya yang sangat eksis di perpustakaan nada saya.
Tahun 2010 hingga pertengahan 2011 adalah masa eksistensi kata "galau" di kalangan anak muda. Saking populernya, kata ini sering dikutip dengan jenaka oleh Mucle di acara DemoCrazy. Sebenarnya saya agak tidak terima kata ini dengan semena-mena digunakan. Di facebook, twitter, dan berbagai macam sosial media, abg-abg dengan mudahnya berkata "saya galau". Oke, tiap orang boleh mendefinisikan sesuatu sesuai dengan persepsinya masing-masing, tapi sejauh apa mereka memaknainya? Bagi saya, galau serupa dengan kalut. Kondisi dimana kita berada di kegelisahan, ketidak-tahuan, kebimbangan, di pertengahan, di abu-abu. Kondisi yang sangat tepat bila digunakan untuk merenung. Sebuah kata yang sangat artifisial namun absurd. Rancu? Ya, memang. Karena galau tidak sesimpel itu, galau menurut saya adalah sebuah perjalanan spiritual yang tepat digunakan untuk merefleksikan hidup. Dus, sebuah perjalanan eksistensial. Semua orang membutuhkan kegalauan, sesuai dengan proporsinya masing-masing. Tapi bukan dipublish sedemekian rupa sekedar untuk mendapat komentar atau ucapan menenangkan dari orang lain. Ya, pemaknaan akan kondisi abu-abu adalah personal.
Kembali ke bahasan awal, melankolisme sangat kental dengan kegalauan, mungkin ini yang membuatnya dikutip disana-sini. Padahal jika disuruh menjelaskan bagaimana detil perasaannya, kita akan merasa kesusahan. Kebimbangan, kekalutan, kesusahan pendeskripsian inilah yang membuat musik-musik Ambient, Post Rock dan Shoegaze menjadi trademark kegalauan. Apalagi musiknya yang menyayat-nyayat dan jarangnya lirik semakin mengakomodir perasaan yang berlari kesana-kemari sesuka hati. Mungkin untuk orang yang kurang suka mengeksplorasi musik, Ambient, Post Rock dan Shoegaze adalah kata yang asing, karena 3 jenis musik tersebut merupakan sub-genre. Untuk sekedar penggambaran saja, Ambient adalah jenis musik yang memfokuskan terhadap suara-suara atmospheric, alam, dan kondisi sekitar, biasanya lebih ke arah musik elektronik nirlirik. Kemudian, Shoegaze adalah musik sub-genre dari alternatif rock yang lebih menitikberatkan pada penggunaan efek-efek gitar dan noise-noise yang menyayat. Sedangkan Post Rock adalah subgenre dari progresif rock, tetapi lebih berfokus pada rhythm dan harmonisasi serta tekstur gitar. Biasanya lebih berupa instrumental tanpa lirik, dan komposisinya menanjak, dari pelan, naik, hingga klimaks. Tentu saja keabsahannya sebagai genre atau subgenre musik masih menjadi polemik sana-sani. Terlepas dari polemik tersebut, tiga jenis musik itulah yang biasa menemani saya merefleksikan keadaan yang sedang bimbang (baca: galau).
Lebih spesifik lagi, saya akan berbagi (tentu saja dengan kompetensi seadanya) tentang pemaknaan melankolisme dalam kehidupan. Tentu bukan substansinya, karena itu adalah konsumsi pribadi yang tiap orang memiliki kecenderungan pemaknaan yang berbeda. Tetapi lebih ke arah medio, sebagai fasilitator atau partner dalam menjalaninya. Kali ini, saya akan berbagi tentang Explosions In The Sky, sebuah band dari Texas yang disebut-sebut sebagai salah satu dedengkot Post Rock. Sekali lagi, tulisan ini adalah subjektifitas saya akan kombinasi kesemuanya; review pribadi, melankolisme, kegalauan, dan musik sebagai soundtrack kehidupan.
Seperti saya sebutkan tadi, Post Rock adalah salah satu teman saya melalui malam melankolis, dan jagoan saya adalah Explosions In The Sky. Pemaknaan musik sendiri tak bisa lepas dari segala relung kehidupan, dan kecocokan saya dengan nada-nada yang dihasilkan Explosions In The Sky karena saya merasakan mereka adalah analogi dari kehidupan itu sendiri. Mereka hampir tak pernah membatasi. Pembatasan tertinggi mereka adalah lewat judul, tidak lebih. Tapi seberapa sih panjangnya sebuah judul, itupun selalu multitafsir. Jika mendengarkan lagu-lagu dengan lirik yang dalam adalah menonton sebuah film bagus, maka mendengarkan Explosions In The Sky adalah membaca novel hebat.
Musik Post Rock cenderung tanpa lirik. Dari 38 lagu yang berasal dari 6 album yang sudah dihasilkan, saya hanya menemukan 2 lagu berlirik. Dari album terbarunya, lagu singkat berdurasi tepat tiga setengah menit(ya, ini lagu singkat, rata-rata lagu mereka berdurasi 7 hingga 9menit) berjudul "Trembling Hands", liriknya hanya berkata "O..O..O..O..O..". Bodoh? TIDAK! Menurut saya itu adalah sindiran halus akan lagu-lagu masa kini yang sok menggurui dan banyak menggunakan bahasa berat tapi tak berisi. Mereka seolah berkata, "Mari bernyanyi dengan mudah bersama kami, kau sendiri yang memaknai!". Kemudian yang kedua, lagu berjudul Have You Passed Through This Night, pembawaan liriknya lebih ke arah monolog kelam dan berbisik.
"Does our ruin benefit the earth, aid the grass to grow and the sun to shine?"
Jika kita jeli, sedikit kutipan lirik diatas sudah menggambarkan betapa gelapnya musik dan liriknya. Bisa anda bayangkan, band yang tak pernah memasukkan lirik dalam musiknya, mendadak bermonolog tentang kegelapan dan kehancuran dunia. Sebuah analogi dan humor satir bukan? Seakan mereka membuka mata kita, bahwa satu-satunya hal nyata yang kini terjadi di dunia ini adalah kegelapan dan kehancuran. Usut punya usut, ternyata liriknya merupakan sampling dari dialog film The Thin Red Line(1998), sebuah film perang dunia kedua dengan tagline " Every Man Fights His Own War"(wtf!!!). Sudah cukup merusak suasana hati anda? Tunggu dulu, saya masih berbicara tentang liriknya saja, belum menuju ke musiknya yang cocok sebagai teman bermelankolis. Saatnya beralih ke kegelapan yang lebih menyenangkan.
Saya kadang sedikit heran dengan orang tipe-tipe drama-queen atau drama-king. Mereka terlalu gelisah dengan kegelisahannya sendiri. Padahal, jika dipikir, gelisah (entah itu karena kebimbangan akan pertimbangan atau percintaan) adalah hal yang memang kadang terjadi dan semua mengalami. Jika sedikit berpikiran terbuka, kita dapat menikmati kegelisahan, karena hal tersebut tak selalu terulang secara berkala. Menikmati kegelisahan dan melankolisme adalah sebuah eksistensi diri. Salah satu pencapaian tertinggi dalam kehidupan. Tingkat kekalutan dalam episode melankolisme diri pun sebenarnya juga bermacam-macam. Sebagai awalan, musik EITS muncul perlahan, biasanya dimulai dengan gitar single yang harmonis, ber-twinkle(ahh, saya kesulitan mencari padanan katanya), terkadang sedikit berbau ambient dengan memainkan efek-efek gitar. Masih wajar bila pada titik ini anda masih belum menaruh perhatian pada musiknya dan mungkin hanya menjadikannya sebagai teman kegiatan-kegiatan anda yang lain dimalam hari(minum kopi? saling mengirim pesan? atau bahkan, mengupdate status kegalauan anda di social networking mungkin?!). Sepadan dengannya, melankolisme kadang berada di tingkat di tingkat terendah, kita masih mampu menafikkannya, menumpuk dengan berbagai kegiatan-kegiatan harian yang membosankan atau menyenangkan. Sesekali muncul, merusak mood, menggerogot syaraf nalar anda perlahan. Setiap orang masih dapat menikmati titik ini sebagai pemanis, pendamping kehidupan yang monoton.
Selanjutnya, setelah diberi teaser halus dan kesempatan untuk mempersiapkan kafein, tekstur gitar yang kadang bertwinkle mulai bersinergi dengan munculnya beberapa elemen lain, kombinasi gitar yang meraung (yahh, dengan delay-delay khas post-rock), bass, perkusi, atau drum, dan tentu saja dengan keharmonisan yang terjaga. Atensi anda mulai diambil oleh beat yang sedikit demi sedikit menanjak. Disinilah poin terbaiknya, menikmati transformasi nuansa sunyi ke nuansa yang menggeliat. Nikmati perlahan, lalu lupakan kafein dan pesan.. Tak ubahnya di dunia nyata kita, setelah berproses dan mendapat bumbu disana-sini, kita mulai berekspektasi, entah itu baik atau buruk. Sampai pada tahap ini, kekalutan mulai berkecamuk, karena kita mulai berada pada tahap abu-abu. Kebimbangan mengambil atensi kita. Kegiatan sehari-hari mulai menjadi minor, nalar mulai terserap semakin kerap.
Dan sampailah kita pada Explosions In The Sky dalam maknanya yang paling harfiah, meledak di langit. Inilah salah satu alasan saya menggilai EITS, mereka tetap memegang teguh idiom "save the best for last". Setelah melewati masa transformasi nuansa, sampailah kita pada titik yang menggeliat hebat. Mereka meredefinisi musik rock dalam arti sebenarnya, tiga gitar yang meraung gila dengan delay dan efek yang saling melengkapi, sesekali dengan balutan bass, serta kombinasi drum dan atau perkusi yang benar-benar memacu adrenalin. Kita dipaksa melupakan sekeliling untuk menikmati puncak ledakan selama 2 atau 3 menit terakhir dengan menggoyangkan kepala atau badan, bahkan keduanya. Mereka sukses mengambil atensi kita dengan maksimal, dan segala di sekitar menjadi banal. Serupa itu, ketika abu-abu mulai menyingkir dan menampakkan warna sebenarnya, ketika melankolisme mencapai titik tertinggi, dia menari-menari. Menari di depan kelopak mata kita. Sampai disini, kita mulai berpikir, "oh betapa kejamnya dunia", dan masuklah kita ke neraka kegalauan tingkat jahanam. Kekalutan yang melanda mulai benar-benar merusak nalar, semua disekitar menjadi semu, tertelan kemelankolisan anda sendiri. Sebut saja inilah kegalauan pada titik maksimal. Tenang kawan, semua pernah mengalami titik tertinggi (atau mungkin.. terendah?) ini.
Ketika lagu berakhir, kita mulai menyadari betapa harmonisnya detil-detil yang tercipta dari musik EITS. Dari nuansa yang sunyi, masa transformasi, hingga harmonisasi yang berteriak menggeliat pada akhir lagu. Emosi kita telah diaduk-aduk dan tak sabar untuk track selanjutnya. Begitupun pribadi kita ketika telah mampu menyelesaikan permasalahan tentang kemelankolisan. Kita mulai bertanya lagi, mencari-cari lagi. Mencoba untuk mendapatkan kebahagian melalui perantara kegalauan. Ketika akhirnya telah mampu mendapatkan kebahagiaan, dan menatap kebelakang, kita mulai menyadari bahwa kegalauan yang kita alami adalah suatu hal spiritual dan bermakna yang tidak terjadi secara berkala.
Dari Explosions In The Sky, kita mulai menyadari betapa sesuatu membutuhkan proses untuk mencapai titik terendah atau tertinggi dari pencapaian itu sendiri. Dan belajar menerima bahwa titik terendah dan tertinggi adalah suatu harmonisasi kehidupan yang perlu pemaknaan, bukan sebagai alat untuk diteriakkan..
25/07/2011 01.22 am.
* in my melancholy bed with The Only Moment We Were Alone from Explosions In The Sky on heavy rotation.

Twitter Just tweets!
Blogger Follow This Blog!
1 komentar:
Posting Komentar